Hayyyyy hayyy hayyyy ....
Tittle : Selene
Author : Basyilia
Cast : lee jinki, cho jin ra, Cho
kyuhyun, Kim eunhye
Suara gema klakson
mendominasi ruas jalan itu. cahaya lampu yang begitu menyilaukan membuat pria
dengan mantel hitam yang melekat di tubuhnya itu harus menghentikan
kesenangannya sesaat, beralih menatap benda super besar yang tengah tertuju
padanya. Sayup-sayup telinganya mendengar teriakan orang-orang di pinggir
jalan. Menyuruhnya agar lekas meninggalkan tempat di mana ia berpijak saat ini.
Namun darahnya seakan membeku, tubuhnya kaku, tak bisa di gerakkan sama sekali.
Satu-satunya anggota tubuh yang bisa ia gerakkan hanyalah matanya, menatap
pesan singkat yang sempat membuatnya melayang kesenangan, membuatnya lupa akan
semuanya. Sayang di Detik berikutnya benda super besar itu menghantam nya,
menghempaskan tubuh ringkih nya yang sudah kaku puluhan kilometer jauhnya,
bersamaan dengan turunnya salju pertama di musim dingin tahun ini.
***
Lee jinki kembali
menyesap secangkir kopi pahit miliknya untuk yang kesekian kali. Pria itu
mengerat kan
mantel berbulu yang ia kenakan. Cuaca bertambah dingin dan Ini sudah
menunjukkan pukul 9 malam, namun sosok yang ia tunggu-tunggu belum juga
menampakkan batang hidungnya. Jinki kembali mengecek ponsel nya, memastikan
bahwa gadis itu benar-benar ingin menemuinya malam ini dengan pesan singkat
yang ia kirim sore tadi.
Dan benar, matanya
tidak mengalami masalah sama sekali. Ia juga tidak mengidap penyakit syindrom
khayalan. Jadi pesan itu benar-benar ada di ponselnya. Pesan yang menyatakan bahwa
gadis itu setuju untuk bertemu dengannya malam ini. namun seharusnya Jin ra
sudah tiba satu jam yang lalu. Tapi mengapa sampai saat in gadis itu belum juga
muncul. Apakah terjadi sesuatu padanya.
Jin ki menggeleng
lemah. Mengusir semua pemikiran-pemikiran bodoh yang memenuhi kepalanya. Mungkin
saja Jin ra sedang ada pekerjaan
tambahan, atau mungkin gadis itu melupakan janji untuk menemuinya?
Jin ki menghela napas, bisa saja jin ra memang tidak ingin
menemuinya. Bukankah selama ini Cho Jin ra tidak pernah menghiraukan nya.
Jin ki beralih menatap jendela besar café yang ia tempati saat ini,
menyaksikan ribuan salju turun memenuhi setiap sudut kota
seoul . Pikiran
pria itu kembali pada hari-harinya yang menyesakkan. Dimana ia menjadi pria
bodoh yang selalu mengharap kan
gadis yang bahkan tak pernah menghiraukannya sedikit pun.
Cho Jin Ra. Sosok gadis yang telah menjadi tujuan hidup
seorang Lee jin ki. Membuat pria itu merubah gaya hidupnya, menjadi lebih bermakna di
setiap detiknya. Tak ada yang lebih menyenangkan bagi jin ki selain melihat
senyum hangat gadis itu. mendengar tawa renyahnya, serta raut ceria yang selalu
di tunjukkan di wajah Jin ra. Walaupun Jin ki hanya bisa mengagumi gadis itu
secara diam-diam, walaupun ia hanya mampu untuk berdiri di belakang gadis itu.
Tapi hal itu sudah cukup untuk mampu membuat jin ki menjalani hari nya.
Bagi jin ki, bahagia itu sedrhana. Melihat Jin ra tersenyum bahagia
di setiap harinya, sudah merupakan hal membahagiakan yang di berikan oleh tuhan
untuknya.
Namun hari ini
entah mengapa hatinya terasa seakan di remas, begitu ngilu. Niat nya untuk
mengungkapkan semua perasaannya mungkin akan sirna begitu saja. Dan kata-kata
manis yang sudah ia persiapkan jauh-jauh hari sudah tidak ada gunanya lagi. Mengingat
kenyataan bahwa Jin ra tidak juga kunjung datang menemuinya. Gadis itu sudah
melupakan janjinya.
Jin ki tersenyum
kecut. Seharusnya sudah dari awal ia menduga hal in akan terjadi. Seharusnya ia
sadar dari mimpinya, bahwa jin ra memang tidak mengingin kan dirinya untuk masuk dalam kehidupan
gadis itu.
Jin ra bagaikan dewi bulan bagi jin ki. Sangat bersinar dan
mengagumkan. Hanya saja, dewi bulan sama sekali tak bisa di gapai bukan? begitu
pula dengan Jin ki, sekuat apapun ia berusaha, sekuat apapun ia menglurkan
tangannya. Sekalipun Jin ra tak akan melihatnya, menghiraukannya. Gadis itu
hanya akan tetap mengacuhkannya. Karena Jin ki, bukan lah apa-apa bagi Jinra.
“Cho Jin Ra, apakah
mencintai mu harus sesakit ini?”
***
Cho kyuhyun tiada
henti nya mengulum senyum di wajah tampannya itu. sesekali pria itu
mengeluarkan tawa renyah saat melihat gadis yang tengah duduk di hadapannya
memberengut kesal dengan wajah yang di tekuk akibat ulahnya. Umpatan-umpatan
gadis itu telah menjadi hiburan tersendiri bagi kyuhyun. menurut kyuhyun tak
ada hal yang lebih lucu ketimbang melihat wajah kesal gadisnya.
“Yak! Cho, berhenti
menatap ku seperti itu! atau kau mau kopi menjijikkan ini mendarat di wajah mu
eoh?” teriak eunhye frustasi. Ia sudah tidak tahu lagi bagaimana cara
menghadapi pria titisan iblis di hadapannya ini. pria yang selalu merecoki
harinya tanpa ampun. Menyebalkan.
“ coba saja kalau
kau berani! Aku akan melakukan lebih dari itu!”
“memang nya apa
yang akan kau lakukan?”
Kyuhyun menarik salah satu sudut bibirnya ke atas, menampilkan
sebuah senyum miring khas seorang cho kyuhyun yang mampu membuat siapa saja
tersihir dan bergidig secara bersamaan.
“ Membawamu ke Altar malam ini juga nona Kim!”
Tubuh eunhye
meremang mendengar ucapan yang baru saja di lontarkan kyuhyun. terkejut? Tentu
saja!
Walaupun mungkin kyuhyun hanya bermain-main namun hal itu sudah
mampu membuat eunhye lupa apa yang harus ia lakukan selanjutnnya. Ia seakan
tersihir oleh suara lembut kyuhyun saat melontarkan satu kalimat itu. Sial!
Tawa kyuhyun tiba-tiba meledak lantas membuat eunhye buru-buru
merubah ekspresi wajahnya yang mungkin terlihat sangat konyol. Lihat saja,
bahkan saat ini kyuhyun tengah menertawakannya.
“ Sial kau cho
kyuhyun!” umpat eunhye kesal. Namun detik berikutnya eunhye mengerjap saat
mendapati perubahan ekspresi kyuhyun yang saat ini terlihat begitu serius.
Gadis itu mengikuti arah pandang kyuhyun yang terlihat tengah memperhatikann
sesuatu. Apa yang tengah di lihat pria itu? untuk apa ia menatap sebuah meja
kosong yang terdapat di pojok ruangan cafe ini.
“ ada apa dengan kursi
kosong itu cho?” tanya eunhye menyuarakan apa yang ada di pikirannya.
Kyuhyun beralih menatap eunhye, alih-alih menjawab apa yang baru
saja di tanyakan gadis itu, kyuhyun malah mengambil ponselnya yang berbunyi
menandakan adanya sebuah pesan masuk.
Mata kyuhyun membulat sempurna saat membaca pesan yang tertera di ponselnya.
Membuat eunhye kembali bertanya-tanya dengan perubahan ekspresi kyuhyun yang
tiba-tiba. “ Ada
apa?”
“ Jin ra, menabrak seseorang!”
***
Cho jin ra menatap
kosong ke arah tempat tidur putih itu. saat ini di hadapannya terdapat seseorang
yang tengah tertidur, wajah orang itu terlihat sangat damai dengan selang dan
kabel-kabel yang memenuhi tubuhnya.
Air mata gadis itu kembali mengalir untuk yang keskian kali,
membentuk anak sungai yang memenuhi pipi pucat jin ra.
“ Maaf. Maaf kan aku!” entah untuk
yang keberapa kalinya jin ra mengucapkan kata-kata itu. Ini semua memang karena
kesalahannya. Pria itu tertidur tak berdaya di atas sana semua itu karena ulahnya.
Seharusnya dari awal jin ra sudah memperhitung kan semua ini sebelum bertindak. Seharusnya
jin ra tidak melakukan hal ini. mementingkan egonya daripada keselamatan orang
lain. Dan sudah sepatutnya jin ra menahan perasaannya sampai titik terendah.
Tapi semua ini
sudah terjadi. Tidak ada gunanya lagi jin ra mengandai-andai. Mungkin saat ini
jin ra hanya bisa menyesali perbuatan bodohnya. Menyesal seumur hidup.
“ini bukan
kesalahnmu jin ra-ya!”
jin ra menoleh kesamping di mana suara itu berasal. Terdapat eunhye
yang tengah menatapnya sendu Sembari membelai lembut pundak jin ra, seakan
memberikan ketenangan pada gadis itu. menyalurkan sedikit kekuatan pada jin ra
yang terlihat begitu gusar.
“ jangan pernah
menyalahkan diri mu sendiri, karena memang ini bukan kesalahan mu!” eunhye
tersenyum lembut pada jin ra, berusaha
terlihat tegar.
Jin ra menghela
napas panjang saat ia merasa bahwa paru-parunya seakan tak berfungsi lagi. jin
ra tahu bahwa eunhye saat ini berusaha menghiburnya. Walaupun semua ucapan
eunhye sama sekali tak bisa merubah apapun. Ucapann eunhye merupakan sebuah
kebohongan besar.
Sangat jelas bahwa semua ini adalah salahnya dan juga… kutukan itu.
Kutukan yang hanya
akan menghancurkan hidup nya. membuat jin ra harus merasakan penyiksaan di
setiap detik kehidupannya. Kutukan sialan yang terus menghantui paginya.
Membuatnya lupa bagaimana cara hidup dengan baik dan benar.
“ Tapi eonni. Bisakah kau jamin bahwa semua ini bukan karena
kesalahan ku?”
***
Jin ki kembali mengerat kan
mantel berbulu coklat yang ia kenakan. Cuaca kota
seoul semakin
bertambah dingin saja, mengingat saat ini memang sudah memasuki musim dingin.
Saat ini Jin ki berada di depan rumah Cho jin ra.
Sebenarnya ia sempat ragu untuk mengunjungi tempat ini. namun rasa
khawatir yang terus membuatnya tidak tenang lah yang membwanya samapi ketempat
ini, kediaman Cho jin ra. Gadis yang telah ia jadikan tujuan dalam hidupnya.
Sudah hampir satu
minggu ini Jin ra tidak masuk kuliah.
Hal itu lah yang membuat Jin ki seakan tidak bisa menjalani hari nya dengan
benar. Membuatnya bagaikan seseorang yang kehilangan semangat dan tanpa tujuan.
Astaga … separah itu kah efek yang di timbulkan bila Jin ki tak melihat jin ra
barang sehari pun? Mengerikan.
“ Kau mencari Siapa?”
Jin ki sedikit tersentak saat mendengar suara barito seorang pria di
belakangnya. Jin ki lantas menoleh kebelakang dan mendapati pria berperawakan
tinggi tengah menatapnya intens.
“ Ah, perkenalkan.
Aku Lee jin ki!” Jin ki mengulurkan tangannya ke arah pria yang masih bergeming
di hadapannya dengan raut wajah yang sangat sulit untuk di tebak. Membuat jin
ki sedikit meremang saat merasakan aura tidak enak mulai menyelimutinya.
Pria itu―Cho
kyuhyun hanya melirik tangan Jin ki yang tepat berada di hadapannya, sama
sekali tidak berniat untuk membalas uluran tangan Jin ki
“Kau mencari siapa?” Tanya kyuhyun untuk yang kedua kalinya, masih
dengan wajah datar namun terkesan menyeramkan. Mata kyuhyun menari-nari
menelusuri sosok pria di hadapannya. Ada
yang aneh dengan Jin ki, Yah kyuhyun merasakan aura yang berbeda dengan pria
itu. Dan tunggu dulu, kyuhyun merasa tidak asing dengan pria ini, ia merasa
seperti pernah bertemu dengan Jin ki. Tapi dimana?
“ Aku hanya mencari
Cho Jin ra? Apa kah dia ada ?” tanya Jin ki sembari menarik tangannya kembali.
Sebenarnya Jin ki ingin sekali mengumpat dan meninju wajah sombong kyuhyun.
Namun itu akan terlihat sangat tidak sopan
mengingat pria di hadapannya itu adalah kakak Sepupu dari Cho jin ra
Yang berarti jauh lebih tua darinya.
“ Tidak Ada. Dia
ada di rumah sakit!” ucap kyuhyun singkat. Tatapannya seakan mengintimidasi
pria yang ada di hadapannya itu
Jin ki tersentak mendengar perkataan kyuhyun barusan. Oh
tuhan… jangan bilang firasatnya selama ini benar. Bahwa jin ra sedang tidak
baik-baik saja.
“ apa kah dia sakit?” tanya jin ki sama sekali tidak bisa menyembunyikan
rasa cemasnya.
“ tidak. Dia sedang menjenguk temannya!” sahut kyuhyun
datar.
Jin ki menghela napas lega, bagaikan baru saja terlepas dari ribuan
ton besi yang menghimpit dadanya. Meghirup oksigen sebanyak banyaknya.
Bodoh memang jika ia sempat berfikir bahwa jin ra lah yang berada di
rumah sakit itu dan menyandang status pasien. Tapi jin ki benar-benar bersyukur
semua itu tidak benar. Semua itu hanyalah pemikirian bodoh yang sempat
bersarang di kepalanya.
“ syukurlah! Kalau begitu aku pergi dulu. Terima kasih hyung!”
setelah menyelesaikan perkataannya jin ki beranjak dari tempatnya meninggalkan
kyuhyun yang masih bergeming di tempatnya dengan rasa penasaran yang makin
mendera.
***
Jin ki berjalan
menelusuri koridor kyunghee yang terlihat sangat sepi. Membuat Jin ki
bertanya-tanya sebenarnya ada apa dengan orang-orang disini. Mengapa mereka
seakan menjauhinya. Di mana pun Jin ki berada pasti orang-orang di sekitarnya
menghindar dan menatapnya ngeri, seakan ia adalah pria yang mengidap penyakit
menular mematikan. Bahkan teman-temannya pun mulai menjauhinya. Hei ada apa
dengan dirinya? Dia tidak benar-benar mengidap penyakit mengerikan itu kan ?
Jin ki menghentikan
langkah nya saat seorang gadis dengan rambut tergerai berantakan melewatinya
begitu saja. Dengan langkah terseok dan pandangan kosong Gadis itu berjalan
menuju taman yang hendak di tuju jin ki.
Pria itu mengikuti jin ra dari belakang, yah hanya dari belakang
gadis itu. yang tentunya sama sekali tak di ketahui jin ra.
Jin ki tersenyum miris, memang nya kapan Jin ra menyadari
kehadirannya. Sama sekali tidak pernah.
Jin ra duduk di
salah satu bangku taman kyung hee, gadis itu menundukkan kepalanya. Bahunya
bergetar terlihat seperti sedang menangis. Menangis? Oh, apakah gadis itu
menangis, pikir jin ki. Apakah ia sedang mendapatkan masalah. Mengapa Dewi
bulannya terlihat begitu rapuh saat ini. apa yang harus di lakukan Jin ki,
harus kah ia mendekati gadis itu dan merengkuh tubuh ringkihnya?.
Setelah bersusah
payah akhirnya jin ki mampu mengalahkan rasa pengecut nya. Mendekati gadis itu
dan duduk tepat di sebelah Jin ra. Hanya duduk. Sama sekali tidak berani
menyentuh gadis itu. Oh, lihat betapa pngecutnya seorang Lee Jin ki.
“Cho jin ra!” ucap jin ki lirih. “ aku…”
“Jin ki-ya!” kata
Jin ra memotong perkataan Jin ki tanpa menoleh sedikitpun ke arah samping
tempat dimana saat ini jin ki tengah menatapnya sendu. Jinra menghela napas
berat lalu kemudian berkata “ Berhenti lah! Aku mohon Berhentilah untuk
mengejarku! Maaf, karena kau sama sekali tidak boleh terus berada di
sekitarku!”
Selesai mengucapkan
perkataannya, gadis itu pergi meninggalkan Jin ki yang masih amat sangat
terkejut dengan apa yang baru saja di lontarkan Jin ra. Telinga nya masih
berfungsi bukan? mengapa suara lembut jin ra terdengar bagaikan nyanyian
kematian yang mengalun di telinganya. Demi tuhan, saat ini Jin ki merasa bahwa
paru-parunya rusak sempurna. Sama skali tidak bisa menerima oksigen lagi.
Begitu sesak.
Perlahan air mata
Jin ki mengalir begitu saja tanpa bisa di tahan pria itu lagi. Saat ini Dewi
Bulan nya dengan terang-terangan menolaknya. Lebih tepatnya, mengusir.
Kenyataan yang begitu menyayat hati Jin ki, Bagaikan tergores oleh pisau
beracun. Sangat perih. Bahkan mungkin dapat membunuhnya secara perlahan.
Mengerikan.
Tanpa sadar sbuah
kilauan bening mulai mengalir di wajah tirus jin ki. Matanya masih memandang
kosong ke arah jin ra yang terlihat semakin menjauh.
“ Kenapa? Apakah salah jika aku mencintai mu Cho jin ra?”
***
Langit gelap mulai
mengintip di balik awan-awan putih. Perlahan menebar butiran air yang jatuh ke
bumi. Membasahai tanah-tanah yang di lewatinya menimbulkan aroma khas air hujan
yang terselip di balik tanah.
Eunhye memejamkan
matanya menikmati aroma yang begitu ia sukai. Menentramkan semua pikirannya.
Begitu nyaman. Namun sayang nya ia tidak bisa berlama-lama menikmati kenyamanan
itu, karena saat ini kyuhyun tiba-tiba saja mengerem menimbulkan suara decitan
ban yang mengagetkan eunhye.
Gadis itu mendelik tajam ke arah kyuhyun yang berada di
balik kemudi nya.
“Yak! Apa-apaan kau!” pekik eunhye tertahan. Matanya bergerak-gerak
menyusuri jalanan yang terbentang di hadapannya saat menyadari bahwa jalan yang
ia lihat saat ini bukan lah jalan menuju rumah sakit. “ Cho kita mau kemana?”
Eunhye menautkan kedua alisnya saat kyuhyun hanya diam di balik
kemudinya, mata pria itu seakan terfokus pada sesuatu yang ada trotoar seberang
jalan.
Tidak ada
siapa-siapa.
“ Cho apa yang kau lihat?” tanya eunhye penasaran. Gadis itu tahu
bahwa saat ini kyuhyun tengah melihat sesuatu yang tak bisa di lihat oleh orang
lain. Yah, itulah kelebihan seorang cho kyuhyun. Tak masuk akal memang, tapi
itu lah yang di miliki cho kyuhyun saat ini. dan eunhye tahu benar akan hal
itu.
Kyuhyun kembali
menghentikan mobilnya tanpa menghiraukan pertanyaan yang terus di lontarkan
eunhye. Dengan gerakan cepat kyuhyun keluar dari mobil nya meneriakan sebuah
nama. Membuat eunhye kembali bertanya-tanya siapa sebenarnya yang kyuhyun liht
saat ini.
Eunhye menyandarkan punggungnya pada kepala kursi yang ia duduki.
gadis itu menyaksikan kyuhyun yang tengah berbincang dengan seseorang yang
entah siapa. Menetralisirkan rasa penasarannya hingga titik terendah.
***
“ Hyung?” jin ki
mengernyit ketika kyuhyun terlihat tengah mengahmpirinya dengan payung hitam di
tangan kanan pria itu. “ ada apa?”
“Jin ki-ya, ayo ikut aku!” Ucap kyuhyun cepat.
“ Memangnya ada apa? kita mau kenapa!”
“Tidak usah banyak bertanya, cepat masuk ke dalam mobil!” kyuhyun
membukakan pintu belakang mobil nya, memberi tanda agar jin ki lekas memasuki
mobil audy hitam itu.
Dengan kening
berkerut, jinki memasuki mobil kyuhyun. Walaupun ia sama sekali tidak mengerti
apa yang akan di lakukan kyhyun dan mau di bawah kemana dia. Apakah tidak apa
jika ia memasuki mobil kyuhyun dalam keadaan basah kuyup seperti ini. Tapi
entah lah sepertinya kyuhyun tidak mempermasalah kan hal itu.
Keadaan di dalam
mobil hening hanya suara rintikan hjan yang mendominasi mereke berdua… ah,
maksudnya bertiga. Jinki baru menyadari bahwa ada seorang gadis yang duduk di
bangku penumpang tepat di sebelah kyuhyun. pantas saja kyuhyun menyuruhnya
duduk di bangku belakang.
“ Cho, sebenarnya apa yang terjadi?” Tanya eunhye hati-hati. Melihat
ekspresi kyuhyun datar seperti membuatnya jadi sedikit ragu, apakah ia harus
bertanya sat ini juga.
Kyuhyun tidak
menjawab pertanyaannya. Pria itu hanya tersenyum tipis ke arah eunhye. senyum
yang seakan mengatakan ‘ nantinya kau pasti akan tahu, jadi berhentilah
bertanya’. Kyuhyun tahu persis bahwa eun hye pasti sangat penasaran, tapi ia
tidak mungkin berkata sekarang. Karena jika ia melakukannya, semua rencananya
akan sia-sia saja.
Tiba di rumah sakit
, kyuhyun berjalan dengan langkah lebar diikuti dengan eunhye yang berada di
sebelahnya dan jin ki berada di belakang mereka. sebenarnya dari tadi jinki
merasa heran mengapa gadis yang ada di sebelah kyuhyun itu sama sekali tidak
pernah menatapnya atau setidaknya menyapa. Gadis itu seakan tidak menganggapnya
ada. Ya tuhan, apakah mereka ini pasangan yang sama angkuhnya?
Kyuhyun berhenti di
depan sebuah kamar pasien. Menarik napas sejenak lalu kemudian berkata “ Kau
masuklah, kami akan menunggu disini!” tatapan kyuhyun sama sekali tak bisa di
artikan oleh jinki. Kyuhyun sedari tadi hanya memasang wajah datar, begitu pula
dengan gadis di sebelah kyuhyhun. Hal itulah yang membuat perasaan Lee jin ki
semakin tidak tenang, instingnya mengatakan bahwa sesuatu yang tidak benar akan
terjadi.
Kyuhyun membuka pintu putih itu perlaha kemudian memberikan isyarat
pada Jinki agar segera memasuki ruangan itu.
Perlahan jinki
menginjakkan kakinya ke dalam ruangan serba putih itu, aroma obat dan bahan
kimia menyeruak memasuki indra penciumannya, suara monitor berirama seakan
menyambut kehadirannya.
Mata jinki menangkap sosok gadis yang duduk membelakingi dirinya.
Punggung gadis itu bergetar. Jin ki yakin gadis itu pasti menangis. Ada sesuatu yang
mengganjal di hati jinki, punggung bergetar itu seakan tidak asing baginya. Hal
itulah yang membuat jinki semakin penasaran apa maksud dari kyuhyun membawanya
ketempat ini.
Perlan, jinki
melangkahkan kakinya mendekti gadis itu. detak jantungnya semakin berpacu
dengan cepat, hingga pada akhirnya ia merasa bahwa jantung nya telah rusak, tak
mampu berdetak lagi. matanya memanas, Tubuhnya bergetar. Lututnya terasa sangat
lemas. Dan oksigen seakan menjauhinya.
Ini tidak Mungkin.
Gadis yang tengh menangis terisak itu adalah Cho Jinra. Dan pria
yang tengah terbaring tak berdaya itu adalah… Dirinya.
Kini ingatannya
kembali pada kejadian-kejadian sebelumnya. Dimana selama satu minggu ini
orang-orang mengacuhkannya. Kekasih kyuhyun yang sama sekali tak pernah
menatapnya. Jinra yang tidak hadir pada malam itu…jadi itu semua karena ini.
Dirinya yang tengah koma dan sekarang ini dia apa? hanya sebatas roh yang
tersesat dan tidak tahu apa-apa? Oh tuhan, bagaimana mungkin ini bisa terjadi.
Jinki mengerang sekencang-kencang nya saat kecelakaan malam itu
mulai teringat di kepalanya. Jin ki melupakan semua itu, dan ia bersikap seakan
tidak terjadi apa-apa. kecelakaan pada malam ia ingin mengutarakan semua
perasaannya kepada Jinra. Pantas saja Jinra tidak datang di malam itu. mungkin
dia sudah mengetahui tentang kecelakaan malam itu. dan bodohnya Jinki menunggu
hingga larut malam. Jinki menangkup wajahnya dengan kedua tangan. Mengapa
semuanya menjadi seperti ini, apa yang harus ia lakukan. Sampai kapan ia harus
terbaring koma seperti itu?
“Jinki-ya” suara lembut Jinra menyadarkan Jinki dari
semua ketakutannya. Suara itu begitu lembut memanggil namanya. Membuat Jinki
berhenti mengerang dan beralih menatap Jinra yang kini tengah menggenggam tangannya
yang pucat.
“ Kapan kau akan bangun? Apa kau tidak lelah tidur terlalu lama eoh?
Lihatlah dirimu sekarang. Begitu kurus dan aku tidak menyukai itu!” Lanjut
Jinra dengan suara yang bergetar. Kilauan bening tiada henti mengalir dari
kelopak matanya yang sembab. Jinki berjalan mendekati Jinra, gadis itu tidak
menyadari kehadirannya. Tentu saja, dia kan
hanyalah roh yang tak terlihat.
“ Aku merindukan
mu!” satu kalimat itu berhasil membuat Jinki sedikit tersentak, ia menatap
Jinra tak percaya. Gadis itu merindukannya?
“ Yah. Aku aku merindukan senyummu, suaramu. Tawa renyah mu. aku
merindukan sosok mu yang selalu memperhatikanku dari belakang. Aku merindukan
seorang lee Jinki. Aku merindukan lee Jinki.!” Isakan tangis Jinra semakin
menjadi. Menggema di ruangan itu.
Jin ki terhenyak.
Selama ini apa yang Ia pikirkan ternyata salah. Jinra
bukan tidak menghiraukannya. Tapi malah sebaliknya. Gadis itu Juga menyukainya
bukan? benarkan? Bukti gadis itu merindukan dirinya. Jadi selama ini cinta
miliknya tak bertepuk sebelah tangan. Kenyataan yang terdengar manis di telinga
Jinki.
Tapi perasaannya tidak bisa di katakan sudah baik-baik
saja. Jinra menangis meraung seperti itu mana bisa ia bersikap tenang. Ingin
rasanya Jinki merengkuh tubuh Ringkih Jinra. Ingin ia menghapus aliran sungai
di wajah pucat itu Lalu mengatakan ‘Semuanya baik-baik saja, berhentilah
menangis’ Tapi Jinki tidak bisa, Ia tidak bisa melakukan apa-apa demi membuat
gadis yang ia cintai tersenyum. ia benar-benar payah.
Pintu terbuka sontak membuat Jinki dan Jinra menoleh
secara bersamaan. Terdapat dua pasang insane yang menghampiri mereka. Yang
gadis menghampiri Jinra dan merengkuh tubuh gadis itu. mencoba menengkannya.
Sedangkan yang pria hanya berdiri tepat di sebelah kanan
Jinki. Lee Jinki teringat akan satu hal. Sedari tadi ia bisa berkomunikasi
dengan kyuhyun. Bagaimana mungkin? Jadi apakah hanya kyuhyun yang bisa
melihatnya?
“ Jinra-ya, berhentilah menangis. Jinki pasti tidak suka
melihat mu seperti ini.!”
“Kenapa? Eonni ingin mengatakan ini bukan kesalahanku!
Berhentilah beromong kosong eonni. Jelas-jelas aku yang menabrak Jinki malam
itu! dan eonni ingin mengatakan ini bukan karena kesalahan ku!” ucap jinra
memenjerit sembari melepaskan pelukan eunhye.
Eunhye menghela napas panjang lalu kemudian berkata “
kecelakaan itu terjadi karena ketidak sengajaan. Bukankah polisi juga
mengatakan seperti itu? Jadi ini semua bukan Karena salahmu Jinra!” mata eunhye
sama sekali tak menyiratkan kemarahan. melainkan sebaliknya begitu lembut dan
menenangkan.
Kyuhyun hanya diam memperhatikan dua gadis penting dalam
hidupnya tengah berargumen. Begitupula dengan Jinki ia hanya membatu di
tempatnya. Mencoba mencerna kata-demi kata yang di ucapkn Jinra barusan. Oh
rahasia apa lagi yang harus terbongkar malam ini?
“ Tapi bagaimana dengan kutukan itu? kutukan yang
menyatakan aku tidak akan bisa berhubungan dengan pria manapun. Karena di
setiap aku mencoba mendekati seorang pria, ia akan celaka di tangan ku sendiri.
Dan hal itu telah terjadi kepada Jinki.!” Ucap jinra lemah. Gadis itu terjatuh
di atas sofa yang berada di sampingnya.
“ Aku… seharusnya tidak boleh mencoba datang pada malam itu. seharusnya
aku sudah tahu resiko nya. tapi aku masih tetap melakukannya. Jadi semua ini
adalah salah ku eonni,,, oppa. Ini salah ku!” Jinra kembali menangis sambil
menangkup wajahnya. Takdir seakan memojokkan dirinya. Tidak ada yang bisa ia
lakukan saat ini. kecuali menyesal dan terus menyesal.
***
Dengan langkah pelan jin ki mendekati sofa itu. dimana
gadis yang telah menjadi tujuan hidupnya terlelap begitu damai sangat berbeda
ketika saat gdis itu terbangun. Mata kecoklatan jinki menar-nari menysuri
setiap inci wajah Jinra. Memandang lekat gadis itu seakan tak ingin wajah Jinra
menghilang dari jarak pandangnya. Wajah jinra begitu pucat, matanya sembab dan
menghitam. Kini yang Jinki lihat Bukanlah Jinra yang Ceria dan penuh Tawa. Tak
ada lagi senyum canggung gadis itu, hanya ada isakan yang begitu mengiris hati
jinki, tak ada lagi tawa renyah Jinra. Yang ada hanyalah jeritan memilukan dari
gadis itu.
Tangan Jinki
membelai lembut Pipi Jinra yang masih asik dengan dunia mimpinya. Hati Jinki
terasa begitu ngilu saat ia melihat gadis yang begitu ia cintai seperti ini.
Terlihat bagaikan mayat hidup yang tanpa memiliki tujuan Hidup. Terlebih lagi
ketika Gadis itu terus saja mengucapkan kata maaf padanya, ketika Jinra tiada
henti menyalahkan dirinya sendiri. Hal itu membuat Hati Jinki perih bagaikan
teriris belati beracun.
Sungguh, sedikitpun Jinki tak pernah menyalahkan Jinra
dengan apa yang terjadi. Juga bukan salah dari kutukan atau apapun itu. semua
ini sudah merupakan jalan Hidupnya. Tuhan sudah cukup adil dengan membuat Jinra
Mmbalas cintanya, itu adalah hal paling membahagiakan bagi Jinki. Sekalipun
Jinki harus kehilangan Nyawa, Jinki tidak Peduli. Yang Terpenting Dalam
Hidupnya adalah bertemu dengan Jinra, melihat Gadis Itu tertawa dengan sangat
ceria.
Jinki melihat Tangan nya mulai memudar. Mungkin ini
saatnya ia harus benar-benar meninggalkan dunia dan Dewi Bulannya. Jinki
tersadar, Sampai Kapanpun ia tidak akan bisa berada disisi seorang dewi bulan.
Tapi keadaan telah berbeda, dewi bulan yang dulu ia sangka tak akan pernah ia
dekati kini telah memberikan hatinya untuk Jinki. Dan sekalipun Jinki Harus
pergi saat ini Juga, Ia rela, karena Apa yang ia inginkan telah sepenuhnya
tercapai. Setidaknya ia bisa pergi dengan tenang bersama dengan kebahagian yang
tak terbayangkan.
Jinki menyelipkan sebuah Kertas pada telapak tangan
gadis itu. setidaknya ia harus melakukan sesuatu untuk mengembalikan Dewi
bulannya seperti dulu lagi. Kembali bersinar dengan cahayanya yang tak pernah
redup. Setelah itu ia benar-benar akan tenang di alam sana nantinya.
“Selamat Tinggal Cho Jinra. Saranghae!”
Bersamaan dengan hilangnya roh Jinki. Saat itu pula layar itu mulai
berirama tanpa jeda. Membangunkan Jinra yang sempat terlelap dalam tidurnya.
Tanpa sadar Jinra berlari ke arah tempat tidur Jinki dengan tatapan shock
bercampur bingung. Matanya melihat layar dan tubuh Jinki secara bergantian.
Tidak. Ini Tidak
mungkin.
Jinra menjerit sekencang mungkin. Air matanya sudah tumpah dari
tadi. Tubuhnya bergetar. Kaki nya mulai melemah hingga pada akhirnya ia harus
jatuh terduduk di lantai yang dingin. Otak nya sudah tidak mampu berfikir lagi.
Tuhan benar-benar tidak adil. Mengapa ia Harus dihadapkan dengan smua ini?
orang yang benar-benar ia cintai meninggalkan nya untuk selamanya tanpa sepatah
katapun yang Jinra ucapkan untuk mewakilkan perasaannya terhadap Jinki.
Perasaannya hancur secara berkeping bahkan nyaris menjadi butiran-butiran debu
yang tak berbentuk.
Tuhan apa yang harus ia lakukan?
***
Ini sudah hari kedua setelah kepergian Lee jinki. Dan
selama itu pula yang bisa Jinra lakukan hanyalah mengurung diri di dalam kamar
sembari memeluk lututnya. Ia sudah tidak dapat melukiskan apa yang ia rasakan
saat ini. mngkin, jika ada kata yang lebih mengerikan dari rasa sakit, mungkin
itu lah yang Jinra rasakan saat ini.
Mata kecoklatan
Jinra menangkap sebuat kertas yang berada di atas nakas kecil di sebelah tempat
tidurnya. Ia baru ingat jika pada saat ia terbangun di hari mengerikan itu ada
sebuah kertas yang entah dari mana asalnya bertengger di dalam genggamannya.
Perlahan Jinra membuka lipatan demi lipatan kertas yang sudah
terlihat kusut itu. mata jinra mulai membaca dan saat itu pula matanya mulai
memanas. Segerombolan air mulai mendesak untuk keluar dari pelupuk matanya
untuk yang kesekian kali.
Ya Tuhan Ini….
Hi…
Bagaimana
kabarmu? Ku tebak! Pasti saat ini kau
sedang meringkuk di sudut ruangan sambil menangis bukan?
Ayoolah,
hapus air matamu dan mulailah tersenyum!
Jinra-ya.
Mungkin saat kau membaca surat
ini aku sudah tak lagi berpijak di bumi ini. mungkin aku sudah tak lagi bisa
memandangi mu diam-diam. Tapi bukankah aku tetap berada di hati mu, benarkan?
Sebenarnya
masih banyak hal yang ingin aku lakukan
dengan mu. berkencan dengan mu, memandangimu dari jarak dekat tidak seperti
yang ku lakukan selama ini. diam diam mengikuti dari belakang. Tapi mngkin
takdir berkata lain. Aku tidak bisa berlma-lama berada di sekitar mu. tapi
tidak apa.
Aku
sempat mengenalmu saja sudah membuatku sangat bahagia.
Ah, satu hal yang ingin ku katakan
padamu. Sampai kapanpun aku tak akan pernah memaafkan mu jika kau terus
menyalahkan dirimu atas kepergian k u ini. ini bukan salah mu, juga bukan salah
siapapun. Ini sudah jalan takdir jinra-ya. Jadi berhentilah menjadi gadis bodoh
dan mulailah tersenyum. kembali menjadi gadis yang ceria. Aku hanya
menginginkan itu dari mu. aku mohon.
Ingatlah walaupun aku tidak ada lagi
di dunia ini. tapi hati ku masih tetap bertahan untuk mu.aku akan tetap berada
di dalam hati mu. jadi jika kau merindukan ku. Tutuplah matamu, peganglah
dadamu sambil menyebutkan namaku. Saat itu juga aku akan hadir di hadapanmu.
Terimakasih
untuk segalanya Cho Jinra. saranghae…
LEE
JINKI
“ Jinki-ya” Jinra memeluk
kertas berwarna putih gading itu dengan mata basah namun berbinar. Kesesakan
yang ia rasakan selama ini hilang entah kemana. Seakan ia kembali mendapatkan
asupan oksigen yang sempat meninggalkannya.
Sudut bibir gadis itu terangkat keatas. Menampakkan sebuah senyuman
yang tak pernah terlihat di wajahnya beberapa minggu terakhir ini.
“ aku Juga mencinta
mu. Lee JinKi!”
END
***
Nah, itu FF teman Taiyo lagi ... Mian klu ada typo atau kurang menarik, semoga readers suka dengan FF ini ...
Salam Manis Taiyo ... :)
Salam Manis Taiyo ... :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar