Laman

Minggu, 05 Oktober 2014

FF (SELENE) ONE SHOOT


 Hayyyyy hayyy hayyyy ....

Tittle              : Selene
Author            : Basyilia
Cast                : lee jinki, cho jin ra, Cho kyuhyun, Kim eunhye
                                                   
           
            Suara gema klakson mendominasi ruas jalan itu. cahaya lampu yang begitu menyilaukan membuat pria dengan mantel hitam yang melekat di tubuhnya itu harus menghentikan kesenangannya sesaat, beralih menatap benda super besar yang tengah tertuju padanya. Sayup-sayup telinganya mendengar teriakan orang-orang di pinggir jalan. Menyuruhnya agar lekas meninggalkan tempat di mana ia berpijak saat ini. Namun darahnya seakan membeku, tubuhnya kaku, tak bisa di gerakkan sama sekali. Satu-satunya anggota tubuh yang bisa ia gerakkan hanyalah matanya, menatap pesan singkat yang sempat membuatnya melayang kesenangan, membuatnya lupa akan semuanya. Sayang di Detik berikutnya benda super besar itu menghantam nya, menghempaskan tubuh ringkih nya yang sudah kaku puluhan kilometer jauhnya, bersamaan dengan turunnya salju pertama di musim dingin tahun ini.

                                                                        ***
            Lee jinki kembali menyesap secangkir kopi pahit miliknya untuk yang kesekian kali. Pria itu mengerat kan mantel berbulu yang ia kenakan. Cuaca bertambah dingin dan Ini sudah menunjukkan pukul 9 malam, namun sosok yang ia tunggu-tunggu belum juga menampakkan batang hidungnya. Jinki kembali mengecek ponsel nya, memastikan bahwa gadis itu benar-benar ingin menemuinya malam ini dengan pesan singkat yang ia kirim sore tadi.
            Dan benar, matanya tidak mengalami masalah sama sekali. Ia juga tidak mengidap penyakit syindrom khayalan. Jadi pesan itu benar-benar ada di ponselnya. Pesan yang menyatakan bahwa gadis itu setuju untuk bertemu dengannya malam ini. namun seharusnya Jin ra sudah tiba satu jam yang lalu. Tapi mengapa sampai saat in gadis itu belum juga muncul. Apakah terjadi sesuatu padanya.
            Jin ki menggeleng lemah. Mengusir semua pemikiran-pemikiran bodoh yang memenuhi kepalanya. Mungkin saja Jin ra sedang  ada pekerjaan tambahan, atau mungkin gadis itu melupakan janji untuk menemuinya?
Jin ki menghela napas, bisa saja jin ra memang tidak ingin menemuinya. Bukankah selama ini Cho Jin ra tidak pernah menghiraukan nya.
Jin ki beralih menatap jendela besar café yang ia tempati saat ini, menyaksikan ribuan salju turun memenuhi setiap sudut kota seoul. Pikiran pria itu kembali pada hari-harinya yang menyesakkan. Dimana ia menjadi pria bodoh yang selalu mengharap kan gadis yang bahkan tak pernah menghiraukannya sedikit pun.
            Cho Jin Ra. Sosok gadis yang telah menjadi tujuan hidup seorang Lee jin ki. Membuat pria itu merubah gaya hidupnya, menjadi lebih bermakna di setiap detiknya. Tak ada yang lebih menyenangkan bagi jin ki selain melihat senyum hangat gadis itu. mendengar tawa renyahnya, serta raut ceria yang selalu di tunjukkan di wajah Jin ra. Walaupun Jin ki hanya bisa mengagumi gadis itu secara diam-diam, walaupun ia hanya mampu untuk berdiri di belakang gadis itu. Tapi hal itu sudah cukup untuk mampu membuat jin ki menjalani hari nya.
Bagi jin ki, bahagia itu sedrhana. Melihat Jin ra tersenyum bahagia di setiap harinya, sudah merupakan hal membahagiakan yang di berikan oleh tuhan untuknya.
            Namun hari ini entah mengapa hatinya terasa seakan di remas, begitu ngilu. Niat nya untuk mengungkapkan semua perasaannya mungkin akan sirna begitu saja. Dan kata-kata manis yang sudah ia persiapkan jauh-jauh hari sudah tidak ada gunanya lagi. Mengingat kenyataan bahwa Jin ra tidak juga kunjung datang menemuinya. Gadis itu sudah melupakan janjinya.  
            Jin ki tersenyum kecut. Seharusnya sudah dari awal ia menduga hal in akan terjadi. Seharusnya ia sadar dari mimpinya, bahwa jin ra memang tidak mengingin kan dirinya untuk masuk dalam kehidupan gadis itu.
Jin ra bagaikan dewi bulan bagi jin ki. Sangat bersinar dan mengagumkan. Hanya saja, dewi bulan sama sekali tak bisa di gapai bukan? begitu pula dengan Jin ki, sekuat apapun ia berusaha, sekuat apapun ia menglurkan tangannya. Sekalipun Jin ra tak akan melihatnya, menghiraukannya. Gadis itu hanya akan tetap mengacuhkannya. Karena Jin ki, bukan lah apa-apa bagi Jinra.
            “Cho Jin Ra, apakah mencintai mu harus sesakit ini?”

                                                            ***
            Cho kyuhyun tiada henti nya mengulum senyum di wajah tampannya itu. sesekali pria itu mengeluarkan tawa renyah saat melihat gadis yang tengah duduk di hadapannya memberengut kesal dengan wajah yang di tekuk akibat ulahnya. Umpatan-umpatan gadis itu telah menjadi hiburan tersendiri bagi kyuhyun. menurut kyuhyun tak ada hal yang lebih lucu ketimbang melihat wajah kesal gadisnya.
            “Yak! Cho, berhenti menatap ku seperti itu! atau kau mau kopi menjijikkan ini mendarat di wajah mu eoh?” teriak eunhye frustasi. Ia sudah tidak tahu lagi bagaimana cara menghadapi pria titisan iblis di hadapannya ini. pria yang selalu merecoki harinya tanpa ampun. Menyebalkan.
            “ coba saja kalau kau berani! Aku akan melakukan lebih dari itu!”
            “memang nya apa yang akan kau lakukan?”
Kyuhyun menarik salah satu sudut bibirnya ke atas, menampilkan sebuah senyum miring khas seorang cho kyuhyun yang mampu membuat siapa saja tersihir dan bergidig secara bersamaan.  “ Membawamu ke Altar malam ini juga nona Kim!”
            Tubuh eunhye meremang mendengar ucapan yang baru saja di lontarkan kyuhyun. terkejut? Tentu saja!
Walaupun mungkin kyuhyun hanya bermain-main namun hal itu sudah mampu membuat eunhye lupa apa yang harus ia lakukan selanjutnnya. Ia seakan tersihir oleh suara lembut kyuhyun saat melontarkan satu kalimat itu. Sial!
Tawa kyuhyun tiba-tiba meledak lantas membuat eunhye buru-buru merubah ekspresi wajahnya yang mungkin terlihat sangat konyol. Lihat saja, bahkan saat ini kyuhyun tengah menertawakannya.
            “ Sial kau cho kyuhyun!” umpat eunhye kesal. Namun detik berikutnya eunhye mengerjap saat mendapati perubahan ekspresi kyuhyun yang saat ini terlihat begitu serius. Gadis itu mengikuti arah pandang kyuhyun yang terlihat tengah memperhatikann sesuatu. Apa yang tengah di lihat pria itu? untuk apa ia menatap sebuah meja kosong yang terdapat di pojok ruangan cafe ini.

            “ ada apa dengan kursi kosong itu cho?” tanya eunhye menyuarakan apa yang ada di pikirannya.

Kyuhyun beralih menatap eunhye, alih-alih menjawab apa yang baru saja di tanyakan gadis itu, kyuhyun malah mengambil ponselnya yang berbunyi menandakan  adanya sebuah pesan masuk. Mata kyuhyun membulat sempurna saat membaca pesan yang tertera di ponselnya. Membuat eunhye kembali bertanya-tanya dengan perubahan ekspresi kyuhyun yang tiba-tiba. “ Ada apa?”

“ Jin ra, menabrak seseorang!”

                                                            ***
            Cho jin ra menatap kosong ke arah tempat tidur putih itu. saat ini di hadapannya terdapat seseorang yang tengah tertidur, wajah orang itu terlihat sangat damai dengan selang dan kabel-kabel yang memenuhi tubuhnya.
Air mata gadis itu kembali mengalir untuk yang keskian kali, membentuk anak sungai yang memenuhi pipi pucat jin ra.
            “ Maaf. Maaf kan aku!” entah untuk yang keberapa kalinya jin ra mengucapkan kata-kata itu. Ini semua memang karena kesalahannya. Pria itu tertidur tak berdaya di atas sana semua itu karena ulahnya.
Seharusnya dari awal jin ra sudah memperhitung kan semua ini sebelum bertindak. Seharusnya jin ra tidak melakukan hal ini. mementingkan egonya daripada keselamatan orang lain. Dan sudah sepatutnya jin ra menahan perasaannya sampai titik terendah.
            Tapi semua ini sudah terjadi. Tidak ada gunanya lagi jin ra mengandai-andai. Mungkin saat ini jin ra hanya bisa menyesali perbuatan bodohnya. Menyesal seumur hidup.
            “ini bukan kesalahnmu jin ra-ya!”
jin ra menoleh kesamping di mana suara itu berasal. Terdapat eunhye yang tengah menatapnya sendu Sembari membelai lembut pundak jin ra, seakan memberikan ketenangan pada gadis itu. menyalurkan sedikit kekuatan pada jin ra yang terlihat begitu gusar.
            “ jangan pernah menyalahkan diri mu sendiri, karena memang ini bukan kesalahan mu!” eunhye tersenyum lembut pada jin ra,  berusaha terlihat tegar.
            Jin ra menghela napas panjang saat ia merasa bahwa paru-parunya seakan tak berfungsi lagi. jin ra tahu bahwa eunhye saat ini berusaha menghiburnya. Walaupun semua ucapan eunhye sama sekali tak bisa merubah apapun. Ucapann eunhye merupakan sebuah kebohongan besar.
Sangat jelas bahwa semua ini adalah salahnya dan juga… kutukan itu.
            Kutukan yang hanya akan menghancurkan hidup nya. membuat jin ra harus merasakan penyiksaan di setiap detik kehidupannya. Kutukan sialan yang terus menghantui paginya. Membuatnya lupa bagaimana cara hidup dengan baik dan benar.

“ Tapi eonni. Bisakah kau jamin bahwa semua ini bukan karena kesalahan ku?”

                                                            ***
Jin ki kembali mengerat kan mantel berbulu coklat yang ia kenakan. Cuaca kota seoul semakin bertambah dingin saja, mengingat saat ini memang sudah memasuki musim dingin. Saat ini Jin ki berada di depan rumah Cho jin ra.
Sebenarnya ia sempat ragu untuk mengunjungi tempat ini. namun rasa khawatir yang terus membuatnya tidak tenang lah yang membwanya samapi ketempat ini, kediaman Cho jin ra. Gadis yang telah ia jadikan tujuan dalam hidupnya.
            Sudah hampir satu minggu ini  Jin ra tidak masuk kuliah. Hal itu lah yang membuat Jin ki seakan tidak bisa menjalani hari nya dengan benar. Membuatnya bagaikan seseorang yang kehilangan semangat dan tanpa tujuan. Astaga … separah itu kah efek yang di timbulkan bila Jin ki tak melihat jin ra barang sehari pun? Mengerikan.
“ Kau mencari Siapa?”
Jin ki sedikit tersentak saat mendengar suara barito seorang pria di belakangnya. Jin ki lantas menoleh kebelakang dan mendapati pria berperawakan tinggi tengah menatapnya intens.
            “ Ah, perkenalkan. Aku Lee jin ki!” Jin ki mengulurkan tangannya ke arah pria yang masih bergeming di hadapannya dengan raut wajah yang sangat sulit untuk di tebak. Membuat jin ki sedikit meremang saat merasakan aura tidak enak mulai menyelimutinya.
            Pria itu―Cho kyuhyun hanya melirik tangan Jin ki yang tepat berada di hadapannya, sama sekali tidak berniat untuk membalas uluran tangan Jin ki
“Kau mencari siapa?” Tanya kyuhyun untuk yang kedua kalinya, masih dengan wajah datar namun terkesan menyeramkan. Mata kyuhyun menari-nari menelusuri sosok pria di hadapannya. Ada yang aneh dengan Jin ki, Yah kyuhyun merasakan aura yang berbeda dengan pria itu. Dan tunggu dulu, kyuhyun merasa tidak asing dengan pria ini, ia merasa seperti pernah bertemu dengan Jin ki. Tapi dimana?
            “ Aku hanya mencari Cho Jin ra? Apa kah dia ada ?” tanya Jin ki sembari menarik tangannya kembali. Sebenarnya Jin ki ingin sekali mengumpat dan meninju wajah sombong kyuhyun. Namun itu akan terlihat sangat tidak sopan  mengingat pria di hadapannya itu adalah kakak Sepupu dari Cho jin ra Yang berarti jauh lebih tua darinya.
            “ Tidak Ada. Dia ada di rumah sakit!” ucap kyuhyun singkat. Tatapannya seakan mengintimidasi pria yang ada di hadapannya itu
Jin ki tersentak mendengar perkataan kyuhyun barusan. Oh tuhan… jangan bilang firasatnya selama ini benar. Bahwa jin ra sedang tidak baik-baik saja.
“ apa kah dia sakit?” tanya jin ki sama sekali tidak bisa menyembunyikan rasa cemasnya.
“ tidak. Dia sedang menjenguk temannya!” sahut kyuhyun datar.

Jin ki menghela napas lega, bagaikan baru saja terlepas dari ribuan ton besi yang menghimpit dadanya. Meghirup oksigen sebanyak banyaknya.
Bodoh memang jika ia sempat berfikir bahwa jin ra lah yang berada di rumah sakit itu dan menyandang status pasien. Tapi jin ki benar-benar bersyukur semua itu tidak benar. Semua itu hanyalah pemikirian bodoh yang sempat bersarang di kepalanya.
“ syukurlah! Kalau begitu aku pergi dulu. Terima kasih hyung!” setelah menyelesaikan perkataannya jin ki beranjak dari tempatnya meninggalkan kyuhyun yang masih bergeming di tempatnya dengan rasa penasaran yang makin mendera.
           
                                                                        ***
            Jin ki berjalan menelusuri koridor kyunghee yang terlihat sangat sepi. Membuat Jin ki bertanya-tanya sebenarnya ada apa dengan orang-orang disini. Mengapa mereka seakan menjauhinya. Di mana pun Jin ki berada pasti orang-orang di sekitarnya menghindar dan menatapnya ngeri, seakan ia adalah pria yang mengidap penyakit menular mematikan. Bahkan teman-temannya pun mulai menjauhinya. Hei ada apa dengan dirinya? Dia tidak benar-benar mengidap penyakit mengerikan itu kan?
            Jin ki menghentikan langkah nya saat seorang gadis dengan rambut tergerai berantakan melewatinya begitu saja. Dengan langkah terseok dan pandangan kosong Gadis itu berjalan menuju taman yang hendak di tuju jin ki.
Pria itu mengikuti jin ra dari belakang, yah hanya dari belakang gadis itu. yang tentunya sama sekali tak di ketahui jin ra.
Jin ki tersenyum miris, memang nya kapan Jin ra menyadari kehadirannya. Sama sekali tidak pernah.
            Jin ra duduk di salah satu bangku taman kyung hee, gadis itu menundukkan kepalanya. Bahunya bergetar terlihat seperti sedang menangis. Menangis? Oh, apakah gadis itu menangis, pikir jin ki. Apakah ia sedang mendapatkan masalah. Mengapa Dewi bulannya terlihat begitu rapuh saat ini. apa yang harus di lakukan Jin ki, harus kah ia mendekati gadis itu dan merengkuh tubuh ringkihnya?.        
            Setelah bersusah payah akhirnya jin ki mampu mengalahkan rasa pengecut nya. Mendekati gadis itu dan duduk tepat di sebelah Jin ra. Hanya duduk. Sama sekali tidak berani menyentuh gadis itu. Oh, lihat betapa pngecutnya seorang Lee Jin ki.
“Cho jin ra!” ucap jin ki lirih. “ aku…”

            “Jin ki-ya!” kata Jin ra memotong perkataan Jin ki tanpa menoleh sedikitpun ke arah samping tempat dimana saat ini jin ki tengah menatapnya sendu. Jinra menghela napas berat lalu kemudian berkata “ Berhenti lah! Aku mohon Berhentilah untuk mengejarku! Maaf, karena kau sama sekali tidak boleh terus berada di sekitarku!”
            Selesai mengucapkan perkataannya, gadis itu pergi meninggalkan Jin ki yang masih amat sangat terkejut dengan apa yang baru saja di lontarkan Jin ra. Telinga nya masih berfungsi bukan? mengapa suara lembut jin ra terdengar bagaikan nyanyian kematian yang mengalun di telinganya. Demi tuhan, saat ini Jin ki merasa bahwa paru-parunya rusak sempurna. Sama skali tidak bisa menerima oksigen lagi. Begitu sesak.
            Perlahan air mata Jin ki mengalir begitu saja tanpa bisa di tahan pria itu lagi. Saat ini Dewi Bulan nya dengan terang-terangan menolaknya. Lebih tepatnya, mengusir. Kenyataan yang begitu menyayat hati Jin ki, Bagaikan tergores oleh pisau beracun. Sangat perih. Bahkan mungkin dapat membunuhnya secara perlahan. Mengerikan.
            Tanpa sadar sbuah kilauan bening mulai mengalir di wajah tirus jin ki. Matanya masih memandang kosong ke arah jin ra yang terlihat semakin menjauh.
“ Kenapa? Apakah salah jika aku mencintai mu Cho jin ra?”

                                                            ***
            Langit gelap mulai mengintip di balik awan-awan putih. Perlahan menebar butiran air yang jatuh ke bumi. Membasahai tanah-tanah yang di lewatinya menimbulkan aroma khas air hujan yang terselip di balik tanah.
            Eunhye memejamkan matanya menikmati aroma yang begitu ia sukai. Menentramkan semua pikirannya. Begitu nyaman. Namun sayang nya ia tidak bisa berlama-lama menikmati kenyamanan itu, karena saat ini kyuhyun tiba-tiba saja mengerem menimbulkan suara decitan ban yang mengagetkan eunhye.

Gadis itu mendelik tajam ke arah kyuhyun yang berada di balik kemudi nya.
“Yak! Apa-apaan kau!” pekik eunhye tertahan. Matanya bergerak-gerak menyusuri jalanan yang terbentang di hadapannya saat menyadari bahwa jalan yang ia lihat saat ini bukan lah jalan menuju rumah sakit. “ Cho kita mau kemana?”
Eunhye menautkan kedua alisnya saat kyuhyun hanya diam di balik kemudinya, mata pria itu seakan terfokus pada sesuatu yang ada trotoar seberang jalan.
            Tidak ada siapa-siapa.
“ Cho apa yang kau lihat?” tanya eunhye penasaran. Gadis itu tahu bahwa saat ini kyuhyun tengah melihat sesuatu yang tak bisa di lihat oleh orang lain. Yah, itulah kelebihan seorang cho kyuhyun. Tak masuk akal memang, tapi itu lah yang di miliki cho kyuhyun saat ini. dan eunhye tahu benar akan hal itu.
            Kyuhyun kembali menghentikan mobilnya tanpa menghiraukan pertanyaan yang terus di lontarkan eunhye. Dengan gerakan cepat kyuhyun keluar dari mobil nya meneriakan sebuah nama. Membuat eunhye kembali bertanya-tanya siapa sebenarnya yang kyuhyun liht saat ini.
Eunhye menyandarkan punggungnya pada kepala kursi yang ia duduki. gadis itu menyaksikan kyuhyun yang tengah berbincang dengan seseorang yang entah siapa. Menetralisirkan rasa penasarannya hingga titik terendah.

                                                            ***
            “ Hyung?” jin ki mengernyit ketika kyuhyun terlihat tengah mengahmpirinya dengan payung hitam di tangan kanan pria itu. “ ada apa?”
“Jin ki-ya, ayo ikut aku!” Ucap kyuhyun cepat.
“ Memangnya ada apa? kita mau kenapa!”
“Tidak usah banyak bertanya, cepat masuk ke dalam mobil!” kyuhyun membukakan pintu belakang mobil nya, memberi tanda agar jin ki lekas memasuki mobil audy hitam itu.
            Dengan kening berkerut, jinki memasuki mobil kyuhyun. Walaupun ia sama sekali tidak mengerti apa yang akan di lakukan kyhyun dan mau di bawah kemana dia. Apakah tidak apa jika ia memasuki mobil kyuhyun dalam keadaan basah kuyup seperti ini. Tapi entah lah sepertinya kyuhyun tidak mempermasalah kan hal itu.
            Keadaan di dalam mobil hening hanya suara rintikan hjan yang mendominasi mereke berdua… ah, maksudnya bertiga. Jinki baru menyadari bahwa ada seorang gadis yang duduk di bangku penumpang tepat di sebelah kyuhyun. pantas saja kyuhyun menyuruhnya duduk di bangku belakang.
“ Cho, sebenarnya apa yang terjadi?” Tanya eunhye hati-hati. Melihat ekspresi kyuhyun datar seperti membuatnya jadi sedikit ragu, apakah ia harus bertanya sat ini juga.
            Kyuhyun tidak menjawab pertanyaannya. Pria itu hanya tersenyum tipis ke arah eunhye. senyum yang seakan mengatakan ‘ nantinya kau pasti akan tahu, jadi berhentilah bertanya’. Kyuhyun tahu persis bahwa eun hye pasti sangat penasaran, tapi ia tidak mungkin berkata sekarang. Karena jika ia melakukannya, semua rencananya akan sia-sia saja.
            Tiba di rumah sakit , kyuhyun berjalan dengan langkah lebar diikuti dengan eunhye yang berada di sebelahnya dan jin ki berada di belakang mereka. sebenarnya dari tadi jinki merasa heran mengapa gadis yang ada di sebelah kyuhyun itu sama sekali tidak pernah menatapnya atau setidaknya menyapa. Gadis itu seakan tidak menganggapnya ada. Ya tuhan, apakah mereka ini pasangan yang sama angkuhnya?
            Kyuhyun berhenti di depan sebuah kamar pasien. Menarik napas sejenak lalu kemudian berkata “ Kau masuklah, kami akan menunggu disini!” tatapan kyuhyun sama sekali tak bisa di artikan oleh jinki. Kyuhyun sedari tadi hanya memasang wajah datar, begitu pula dengan gadis di sebelah kyuhyhun. Hal itulah yang membuat perasaan Lee jin ki semakin tidak tenang, instingnya mengatakan bahwa sesuatu yang tidak benar akan terjadi.
Kyuhyun membuka pintu putih itu perlaha kemudian memberikan isyarat pada Jinki agar segera memasuki ruangan itu.
            Perlahan jinki menginjakkan kakinya ke dalam ruangan serba putih itu, aroma obat dan bahan kimia menyeruak memasuki indra penciumannya, suara monitor berirama seakan menyambut kehadirannya.
Mata jinki menangkap sosok gadis yang duduk membelakingi dirinya. Punggung gadis itu bergetar. Jin ki yakin gadis itu pasti menangis. Ada sesuatu yang mengganjal di hati jinki, punggung bergetar itu seakan tidak asing baginya. Hal itulah yang membuat jinki semakin penasaran apa maksud dari kyuhyun membawanya ketempat ini.
            Perlan, jinki melangkahkan kakinya mendekti gadis itu. detak jantungnya semakin berpacu dengan cepat, hingga pada akhirnya ia merasa bahwa jantung nya telah rusak, tak mampu berdetak lagi. matanya memanas, Tubuhnya bergetar. Lututnya terasa sangat lemas. Dan oksigen seakan menjauhinya.
            Ini tidak Mungkin.
Gadis yang tengh menangis terisak itu adalah Cho Jinra. Dan pria yang tengah terbaring tak berdaya itu adalah… Dirinya.
            Kini ingatannya kembali pada kejadian-kejadian sebelumnya. Dimana selama satu minggu ini orang-orang mengacuhkannya. Kekasih kyuhyun yang sama sekali tak pernah menatapnya. Jinra yang tidak hadir pada malam itu…jadi itu semua karena ini. Dirinya yang tengah koma dan sekarang ini dia apa? hanya sebatas roh yang tersesat dan tidak tahu apa-apa? Oh tuhan, bagaimana mungkin ini bisa terjadi.
Jinki mengerang sekencang-kencang nya saat kecelakaan malam itu mulai teringat di kepalanya. Jin ki melupakan semua itu, dan ia bersikap seakan tidak terjadi apa-apa. kecelakaan pada malam ia ingin mengutarakan semua perasaannya kepada Jinra. Pantas saja Jinra tidak datang di malam itu. mungkin dia sudah mengetahui tentang kecelakaan malam itu. dan bodohnya Jinki menunggu hingga larut malam. Jinki menangkup wajahnya dengan kedua tangan. Mengapa semuanya menjadi seperti ini, apa yang harus ia lakukan. Sampai kapan ia harus terbaring koma seperti itu?
“Jinki-ya” suara lembut Jinra menyadarkan Jinki dari semua ketakutannya. Suara itu begitu lembut memanggil namanya. Membuat Jinki berhenti mengerang dan beralih menatap Jinra yang kini tengah menggenggam tangannya yang pucat.
“ Kapan kau akan bangun? Apa kau tidak lelah tidur terlalu lama eoh? Lihatlah dirimu sekarang. Begitu kurus dan aku tidak menyukai itu!” Lanjut Jinra dengan suara yang bergetar. Kilauan bening tiada henti mengalir dari kelopak matanya yang sembab. Jinki berjalan mendekati Jinra, gadis itu tidak menyadari kehadirannya. Tentu saja, dia kan hanyalah roh yang tak terlihat.
            “ Aku merindukan mu!” satu kalimat itu berhasil membuat Jinki sedikit tersentak, ia menatap Jinra tak percaya. Gadis itu merindukannya?
“ Yah. Aku aku merindukan senyummu, suaramu. Tawa renyah mu. aku merindukan sosok mu yang selalu memperhatikanku dari belakang. Aku merindukan seorang lee Jinki. Aku merindukan lee Jinki.!” Isakan tangis Jinra semakin menjadi. Menggema di ruangan itu.
Jin ki terhenyak.
Selama ini apa yang Ia pikirkan ternyata salah. Jinra bukan tidak menghiraukannya. Tapi malah sebaliknya. Gadis itu Juga menyukainya bukan? benarkan? Bukti gadis itu merindukan dirinya. Jadi selama ini cinta miliknya tak bertepuk sebelah tangan. Kenyataan yang terdengar manis di telinga Jinki.
Tapi perasaannya tidak bisa di katakan sudah baik-baik saja. Jinra menangis meraung seperti itu mana bisa ia bersikap tenang. Ingin rasanya Jinki merengkuh tubuh Ringkih Jinra. Ingin ia menghapus aliran sungai di wajah pucat itu Lalu mengatakan ‘Semuanya baik-baik saja, berhentilah menangis’ Tapi Jinki tidak bisa, Ia tidak bisa melakukan apa-apa demi membuat gadis yang ia cintai tersenyum. ia benar-benar payah.
Pintu terbuka sontak membuat Jinki dan Jinra menoleh secara bersamaan. Terdapat dua pasang insane yang menghampiri mereka. Yang gadis menghampiri Jinra dan merengkuh tubuh gadis itu. mencoba menengkannya.
Sedangkan yang pria hanya berdiri tepat di sebelah kanan Jinki. Lee Jinki teringat akan satu hal. Sedari tadi ia bisa berkomunikasi dengan kyuhyun. Bagaimana mungkin? Jadi apakah hanya kyuhyun yang bisa melihatnya?
“ Jinra-ya, berhentilah menangis. Jinki pasti tidak suka melihat mu seperti ini.!”
“Kenapa? Eonni ingin mengatakan ini bukan kesalahanku! Berhentilah beromong kosong eonni. Jelas-jelas aku yang menabrak Jinki malam itu! dan eonni ingin mengatakan ini bukan karena kesalahan ku!” ucap jinra memenjerit sembari melepaskan pelukan eunhye.
Eunhye menghela napas panjang lalu kemudian berkata “ kecelakaan itu terjadi karena ketidak sengajaan. Bukankah polisi juga mengatakan seperti itu? Jadi ini semua bukan Karena salahmu Jinra!” mata eunhye sama sekali tak menyiratkan kemarahan. melainkan sebaliknya begitu lembut dan menenangkan.
Kyuhyun hanya diam memperhatikan dua gadis penting dalam hidupnya tengah berargumen. Begitupula dengan Jinki ia hanya membatu di tempatnya. Mencoba mencerna kata-demi kata yang di ucapkn Jinra barusan. Oh rahasia apa lagi yang harus terbongkar malam ini?
“ Tapi bagaimana dengan kutukan itu? kutukan yang menyatakan aku tidak akan bisa berhubungan dengan pria manapun. Karena di setiap aku mencoba mendekati seorang pria, ia akan celaka di tangan ku sendiri. Dan hal itu telah terjadi kepada Jinki.!” Ucap jinra lemah. Gadis itu terjatuh di atas sofa yang berada di sampingnya.  “ Aku… seharusnya tidak boleh mencoba datang pada malam itu. seharusnya aku sudah tahu resiko nya. tapi aku masih tetap melakukannya. Jadi semua ini adalah salah ku eonni,,, oppa. Ini salah ku!” Jinra kembali menangis sambil menangkup wajahnya. Takdir seakan memojokkan dirinya. Tidak ada yang bisa ia lakukan saat ini. kecuali menyesal dan terus menyesal.

                                                ***

Dengan langkah pelan jin ki mendekati sofa itu. dimana gadis yang telah menjadi tujuan hidupnya terlelap begitu damai sangat berbeda ketika saat gdis itu terbangun. Mata kecoklatan jinki menar-nari menysuri setiap inci wajah Jinra. Memandang lekat gadis itu seakan tak ingin wajah Jinra menghilang dari jarak pandangnya. Wajah jinra begitu pucat, matanya sembab dan menghitam. Kini yang Jinki lihat Bukanlah Jinra yang Ceria dan penuh Tawa. Tak ada lagi senyum canggung gadis itu, hanya ada isakan yang begitu mengiris hati jinki, tak ada lagi tawa renyah Jinra. Yang ada hanyalah jeritan memilukan dari gadis itu.
 Tangan Jinki membelai lembut Pipi Jinra yang masih asik dengan dunia mimpinya. Hati Jinki terasa begitu ngilu saat ia melihat gadis yang begitu ia cintai seperti ini. Terlihat bagaikan mayat hidup yang tanpa memiliki tujuan Hidup. Terlebih lagi ketika Gadis itu terus saja mengucapkan kata maaf padanya, ketika Jinra tiada henti menyalahkan dirinya sendiri. Hal itu membuat Hati Jinki perih bagaikan teriris belati beracun.
Sungguh, sedikitpun Jinki tak pernah menyalahkan Jinra dengan apa yang terjadi. Juga bukan salah dari kutukan atau apapun itu. semua ini sudah merupakan jalan Hidupnya. Tuhan sudah cukup adil dengan membuat Jinra Mmbalas cintanya, itu adalah hal paling membahagiakan bagi Jinki. Sekalipun Jinki harus kehilangan Nyawa, Jinki tidak Peduli. Yang Terpenting Dalam Hidupnya adalah bertemu dengan Jinra, melihat Gadis Itu tertawa dengan sangat ceria.
Jinki melihat Tangan nya mulai memudar. Mungkin ini saatnya ia harus benar-benar meninggalkan dunia dan Dewi Bulannya. Jinki tersadar, Sampai Kapanpun ia tidak akan bisa berada disisi seorang dewi bulan. Tapi keadaan telah berbeda, dewi bulan yang dulu ia sangka tak akan pernah ia dekati kini telah memberikan hatinya untuk Jinki. Dan sekalipun Jinki Harus pergi saat ini Juga, Ia rela, karena Apa yang ia inginkan telah sepenuhnya tercapai. Setidaknya ia bisa pergi dengan tenang bersama dengan kebahagian yang tak terbayangkan.
Jinki menyelipkan sebuah Kertas pada telapak tangan gadis itu. setidaknya ia harus melakukan sesuatu untuk mengembalikan Dewi bulannya seperti dulu lagi. Kembali bersinar dengan cahayanya yang tak pernah redup. Setelah itu ia benar-benar akan tenang di alam sana nantinya.
“Selamat Tinggal Cho Jinra. Saranghae!”

Bersamaan dengan hilangnya roh Jinki. Saat itu pula layar itu mulai berirama tanpa jeda. Membangunkan Jinra yang sempat terlelap dalam tidurnya. Tanpa sadar Jinra berlari ke arah tempat tidur Jinki dengan tatapan shock bercampur bingung. Matanya melihat layar dan tubuh Jinki secara bergantian.
            Tidak. Ini Tidak mungkin.
Jinra menjerit sekencang mungkin. Air matanya sudah tumpah dari tadi. Tubuhnya bergetar. Kaki nya mulai melemah hingga pada akhirnya ia harus jatuh terduduk di lantai yang dingin. Otak nya sudah tidak mampu berfikir lagi. Tuhan benar-benar tidak adil. Mengapa ia Harus dihadapkan dengan smua ini? orang yang benar-benar ia cintai meninggalkan nya untuk selamanya tanpa sepatah katapun yang Jinra ucapkan untuk mewakilkan perasaannya terhadap Jinki. Perasaannya hancur secara berkeping bahkan nyaris menjadi butiran-butiran debu yang tak berbentuk.
Tuhan apa yang harus ia lakukan?

                                                                        ***
Ini sudah hari kedua setelah kepergian Lee jinki. Dan selama itu pula yang bisa Jinra lakukan hanyalah mengurung diri di dalam kamar sembari memeluk lututnya. Ia sudah tidak dapat melukiskan apa yang ia rasakan saat ini. mngkin, jika ada kata yang lebih mengerikan dari rasa sakit, mungkin itu lah yang Jinra rasakan saat ini.
            Mata kecoklatan Jinra menangkap sebuat kertas yang berada di atas nakas kecil di sebelah tempat tidurnya. Ia baru ingat jika pada saat ia terbangun di hari mengerikan itu ada sebuah kertas yang entah dari mana asalnya bertengger di dalam genggamannya.
Perlahan Jinra membuka lipatan demi lipatan kertas yang sudah terlihat kusut itu. mata jinra mulai membaca dan saat itu pula matanya mulai memanas. Segerombolan air mulai mendesak untuk keluar dari pelupuk matanya untuk yang kesekian kali.
Ya Tuhan Ini….

Hi…
Bagaimana kabarmu? Ku tebak!  Pasti saat ini kau sedang meringkuk di sudut ruangan sambil menangis bukan?
Ayoolah, hapus air matamu dan mulailah tersenyum!
Jinra-ya. Mungkin saat kau membaca surat ini aku sudah tak lagi berpijak di bumi ini. mungkin aku sudah tak lagi bisa memandangi mu diam-diam. Tapi bukankah aku tetap berada di hati mu, benarkan?
Sebenarnya masih  banyak hal yang ingin aku lakukan dengan mu. berkencan dengan mu, memandangimu dari jarak dekat tidak seperti yang ku lakukan selama ini. diam diam mengikuti dari belakang. Tapi mngkin takdir berkata lain. Aku tidak bisa berlma-lama berada di sekitar mu. tapi tidak apa.
Aku sempat mengenalmu saja sudah membuatku sangat bahagia.
          Ah, satu hal yang ingin ku katakan padamu. Sampai kapanpun aku tak akan pernah memaafkan mu jika kau terus menyalahkan dirimu atas kepergian k u ini. ini bukan salah mu, juga bukan salah siapapun. Ini sudah jalan takdir jinra-ya. Jadi berhentilah menjadi gadis bodoh dan mulailah tersenyum. kembali menjadi gadis yang ceria. Aku hanya menginginkan itu dari mu. aku mohon.
          Ingatlah walaupun aku tidak ada lagi di dunia ini. tapi hati ku masih tetap bertahan untuk mu.aku akan tetap berada di dalam hati mu. jadi jika kau merindukan ku. Tutuplah matamu, peganglah dadamu sambil menyebutkan namaku. Saat itu juga aku akan hadir di hadapanmu.
Terimakasih untuk segalanya Cho Jinra.  saranghae…

                                                                             LEE JINKI
“ Jinki-ya”  Jinra memeluk kertas berwarna putih gading itu dengan mata basah namun berbinar. Kesesakan yang ia rasakan selama ini hilang entah kemana. Seakan ia kembali mendapatkan asupan oksigen yang sempat meninggalkannya.
Sudut bibir gadis itu terangkat keatas. Menampakkan sebuah senyuman yang tak pernah terlihat di wajahnya beberapa minggu terakhir ini.
            “ aku Juga mencinta mu. Lee JinKi!”


END
            ***


Nah, itu FF teman Taiyo lagi ... Mian klu ada typo atau kurang menarik, semoga readers suka dengan FF ini ...
Salam Manis Taiyo ... :)




Tidak ada komentar:

Posting Komentar